Jujur aja, waktu pertama kali dengar kata “ekowisata”, yang terlintas di kepalaku adalah hutan, sungai, atau trekking di alam bebas. Tapi ternyata, definisi itu berkembang jauh setelah aku menginjakkan kaki di Desa Sade, Lombok Tengah. Bukan cuma soal alam, tapi juga tentang harmoni antara manusia, budaya, dan lingkungan yang terjaga rapi sampai sekarang.
Desa Sade ini unik. Letaknya nggak jauh dari Bandara Internasional Lombok. Tapi begitu masuk ke dalam desa, rasanya seperti mundur ratusan tahun ke belakang. Rumah-rumah beratap alang-alang, lantai tanah yang rutin dilapisi kotoran kerbau agar tetap kokoh, dan warga lokal yang ramah menyambut dengan senyum hangat.
Awalnya aku pikir ini bakal jadi kunjungan sebentar. Tapi semakin lama, aku sadar, ini bukan destinasi biasa. Ini pengalaman.
Pertemuan Pertama: Disambut dengan Tarian dan Cerita
Begitu turun dari kendaraan, aku langsung disambut oleh anak-anak muda Desa Sade yang mengenakan pakaian adat Sasak. Mereka menari dengan iringan gendang beleq yang menggelegar. Energinya luar biasa. Meski baru saja tiba, aku langsung merasa diterima, seolah aku bukan sekadar tamu — tapi bagian dari keluarga besar mereka.
Sambil menikmati tarian, aku sempat ngobrol dengan seorang pemandu lokal yang juga warga asli. Dia menjelaskan bahwa semua atraksi yang ditampilkan di sini bukan sekadar tontonan wisata, tapi bagian dari kehidupan sehari-hari. Jadi kalau kamu ikut menyaksikan atau bahkan ikut menari, itu bukan akting. Itu realita budaya yang masih hidup dan terus diwariskan turun-temurun.
Rumah Adat dan Filosofinya
Salah satu hal yang paling menarik dalam ekowisata di Desa Sade adalah rumah adatnya. Bentuknya kecil, dengan atap rendah, berdinding anyaman bambu, dan tidak ada jendela. Kata bapak pemandu, rumah-rumah ini dibangun berdasarkan filosofi sederhana: bersahaja, hangat, dan saling dekat.
Aku sempat masuk ke salah satu rumah warga dan merasakan langsung kehangatan suasana di dalamnya. Di tengah rumah ada tungku kecil untuk memasak, dan di sudut ruangan tergantung alat tenun yang digunakan oleh ibu rumah tangga. Menariknya, proses pembangunan rumah dilakukan secara gotong-royong tanpa alat berat. Semua murni pakai tenaga dan bahan alam sekitar.
Bukan cuma sekadar rumah, tapi karya seni hidup yang mencerminkan prinsip ekowisata: membangun dengan menghormati lingkungan dan menjaga keseimbangan.
Belajar Menenun: Kain Tenun dengan Cerita di Baliknya
Salah satu pengalaman yang paling berkesan buatku di Desa Sade adalah saat belajar menenun. Ibu-ibu di desa ini bukan hanya pengrajin biasa, mereka adalah penjaga budaya. Sejak kecil, mereka sudah diajarkan cara memintal benang, merangkai motif, dan menyelesaikan satu lembar kain dalam hitungan minggu.
Aku sempat duduk di samping salah satu ibu dan mencoba memutar alat tenun tradisionalnya. Ternyata susah juga. Tapi sambil aku belajar, beliau bercerita tentang makna tiap motif — ada yang melambangkan keberanian, ada yang mencerminkan harapan, dan ada juga yang menceritakan kisah cinta dari legenda Sasak.
Buatku, menenun jadi semacam meditasi. Perlahan, sabar, dan penuh makna. Dan yang paling penting, ini cara mereka menjaga warisan budaya sekaligus menjaga mata pencaharian dari alam sekitar.
Bertani, Berternak, dan Menghargai Tanah
Warga Desa Sade masih hidup dari pertanian dan peternakan. Tapi yang menarik, cara mereka bertani sangat alami. Tanpa pestisida kimia, tanpa pupuk buatan. Mereka menggunakan sistem tradisional yang sudah dipraktikkan sejak dulu: rotasi tanam, pupuk kompos, dan irigasi sederhana dari bambu.
Aku diajak turun ke sawah, menanam padi secara manual bersama petani lokal. Tangan belepotan lumpur? Jelas. Tapi hatiku penuh. Rasanya seperti kembali ke akar — bahwa hidup itu sebenarnya cukup dengan bekerja bersama alam, bukan melawannya.
Selain bertani, sebagian warga juga memelihara sapi, ayam, dan kambing. Tapi yang bikin aku kagum, mereka benar-benar menghormati hewan-hewan itu. Ada ritual sebelum memotong hewan, ada kebiasaan berbagi hasil panen, dan semuanya terasa sangat humanis.
Ekowisata yang Ramah Lingkungan dan Jiwa
Desa Sade bukan hanya tentang melihat dan memotret, tapi tentang merasakan langsung kehidupan yang berpijak pada kesederhanaan dan keseimbangan. Mereka tidak berambisi jadi desa modern dengan gedung tinggi atau pusat belanja. Justru kekuatan mereka ada di kemampuan mempertahankan tradisi di tengah arus zaman.
Itulah esensi ekowisata yang sesungguhnya — wisata yang tidak merusak, tapi justru menjaga. Dan sebagai wisatawan, aku merasa terlibat langsung dalam proses itu. Bukan sebagai penonton, tapi sebagai peserta.
Buat kamu yang cari liburan Lombok yang beda dari biasanya, Desa Sade wajib masuk bucket list. Bukan cuma karena keunikannya, tapi karena nilai yang bisa kamu bawa pulang dari perjalanan ini.
Tips Berkunjung ke Desa Sade
- Datang pagi hari: Supaya bisa menikmati suasana desa yang masih segar dan sempat menyaksikan aktivitas warga dari awal.
- Gunakan pemandu lokal: Selain membantu menjelaskan sejarah dan budaya, mereka juga tahu cerita-cerita unik yang nggak ditulis di buku panduan.
- Bawa uang tunai secukupnya: Kalau kamu tertarik beli kain tenun atau hasil kerajinan, biasanya transaksi dilakukan langsung tanpa mesin EDC.
- Jaga sikap dan berpakaian sopan: Desa ini punya norma adat yang cukup kuat, jadi pastikan kamu menghormati aturan lokal.
- Tanya sebelum memotret: Meski banyak spot cantik, penting untuk izin dulu jika ingin memotret orang atau aktivitas tertentu.
Dari semua pengalaman di Lombok, ekowisata di Desa Sade adalah salah satu yang paling berkesan buatku. Karena aku nggak cuma jalan-jalan, tapi belajar tentang kehidupan, kebudayaan, dan cara hidup yang lebih selaras dengan alam.